Posko Tanggap Darurat Banjir Aceh 2025 Dibuka untuk Bantu Warga Terdampak
WRITTEN ON 15 DECEMBER 2025
Bulan November menjadi salah satu waktu terberat yang dihadapi warga Aceh. Tepatnya pada tanggal 26 November, Aceh yang telah dilanda hujan berhari-hari, kembali mengalami hujan deras yang mengakibatkan meluapkan sungai-sungai, genangan banjir di pemukiman warga, serta pergerakan tanah di daerah perbukitan dan pegunungan. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor alam dan manusia. Data meteorologi menunjukkan hujan yang mengguyur Pulau Sumatera mencapai lebih dari 300 milimeter per hari, angka yang tergolong ekstrem untuk wilayah tropis. Kondisi ini diperkuat oleh keberadaan Siklon Tropis Senyar (sebelumnya terdeteksi sebagai bibit badai 95B) di Selat Malaka, yang menarik uap air dalam jumlah besar dan memusatkan presipitasi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Namun tidak hanya hujan ektrem yang menjadi faktor terjadinya bencana ini, daerah terdampak berada di dataran rendah dan hilir daerah sungai (DAS) yang secara alami merupakan tempat berkumpul aliran air dari dataran tinggi. Jenis tanah yang dimiliki daerah terdampak didominasi material lempung, jenis yang sulit menyerap air. Dilihat dari peninggalan bencana, ditemukan gelondongan kayu di beberapa daerah, juga konversi hutan menjadi perkebunan sawit, deforestasi yang membuat hutan kehilangan fungsi sebagai spons air merupakan faktor lain menyebabkan terjadinya bencana ini.
Sayangnya, musibah ini menimbulkan korban jiwa dan terus bertambah seiring pencarian. Banyak warga kehilangan keluarga juga harta benda mereka. Dampak bencana ini dirasakan di beberapa Kabupaten/Kota di Aceh. Terdapat 18 Kabupaten/Kota terdampak mengalami kerusakan infrastruktur; ribuan unit rumah, ratusan unit jembatan dan ratusan ruas jalan mengalami kerusakan. Putusnya jembatan jalan utama Sumatera membuat pengendara tidak dapat melintas dan melanjutkan perjalanan hingga terhambatnya penyaluran bantuan. Aktivitas wargapun tergangu. Kerusakan ini menyebabkan sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman.
Beberapa daerah terisolir imbas jalan dan jembatan putus yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Singkil. Dikarenakan hal tersebut, warga terancam kelaparan. Pasokan makanan terhenti. Selain itu, pasokan BBM juga tidak dapat masuk ke beberapa wilayah. Sebagian besar wilayah mengalami gangguan akses internet dan listrik. Para warga tidak dapat menghubungi keluarga dalam beberapa hari. Banyak video dan foto saat kejadian dan seletah kejadian tersebar pada sosial media oleh korban. Video-video tersebut memperlihatkan bagaimana para warga bisa bertahan ketika banjir terjadi. Berita mengenai keadaan korban setelah kejadian pun banyak tersebar, terjadinya kelaparan, penjarahan, hingga pencarian keluarga yang belum bisa dihubungi. Hal tersebut menarik simpati publik, banyak warga yang mulai membagi dan membuka donasi di media sosial.
Sebagai bentuk respons cepat, tim Aceh Ocean Coral telah membuka posko bantuan untuk melayani masyarakat terdampak. Posko tersebut difungsikan sebagai pusat koordinasi penyaluran logistik, pelayanan informasi, serta pendataan kebutuhan mendesak para korban banjir. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok seperti makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, dan lainnya. Tim di lapangan juga terus melakukan pemantauan kondisi wilayah terdampak guna memastikan bantuan tersalurkan secara merata dan tepat sasaran. Penyaluran bantuan rencanya akan difokuskan ke wilayah Aceh. Posko dibuka di tiga daerah yaitu Jakarta, Banda Aceh, dan Lhokseumawe dengan alamat :
- Jakarta : Sahid Sudirman Residence Unit LG 09, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 86, Kel. Karet Tengsin, Jakarta
- Banda Aceh : Lr. Cempaka No. 2 Dusub Melati, Geuce Menara, Kec. Jaya Baru, Banda Aceh
- Lhokseumawe : Jl. Tgk Umar No. 338 Komplek Panggoi Indah, Gp. Meunasah Masjid, Kec. Muara Dua, Lhokseumawe
Selain dapat membagikan barang, bantuan bisa dibagikan menggunakan dana melalui BNI 0102415783 atas nama Aceh Ocean Coral. Dana akan dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan korban terdampak.